Jumat, Juli 31, 2009

ITM Satoe

Organisasi Mahasiswa ITM Akan Dibajak

Oleh : d’niaz

Reporter BOM - ITM

Organisasi mahasiswa Intitut Teknologi Medan akan dibajak. Kalimat ini mungkin akan menjadi suatu tanda tanya dalam diri kita masing – masing. Belakangan ini dinamika kampus Institut Teknologi Medan (ITM) mulai hidup kembali. Namun, apakah ini awal dari kejayaan demokrasi mahasiswa ITM atau akhir dari segalanya. Tidak terlepasnya campur tangan dari pihak birokrat kampus membuat mahasiswa menjadi geram. Itu terlihat dari beberapa keputusan yang telah ditetapkan di Sidang Paripurna Musyawarah Luar Biasa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) - ITM dipermasalahkan oleh PR-III ITM (Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan-red). Apakah wajar jika kesepakatan mahasiswa yang telah ditetapkan di Sidang Paripurna Musyawarah Luar Biasa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) - ITM dipermasalahkan oleh PR-III ITM (Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan-red). Apakah wajar jika kesepakatan mahasiswa yang telah ditetapkan harus dilakukan PK (peninjauan kembali-red)?

Tidak hanya sampai disitu, terlepas dari benar atau tidak, mereka (birokrat-red) juga berusaha untuk mengirimkan orang – orangnya ke dalam tubuh organisasi mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa seakan – akan dijadikan ayam aduan. Sebenarnya apa yang sedang mereka rencanakan? Apakah kepentingan mereka dibalik organisasi mahasiswa? Dan bagaimana dengan mahasiswa itu sendiri?

Kini, BEM – ITM mulai bangkit. Namun apa yang diharapkan oleh mahasiswa masih jauh panggang dari api. Teriakan ITM satu seakan menjadi utopia. Sebagian mahasiswa kini malah lebih sibuk mengkrabkan diri dengan para birokrat kampus, mengincar jabatan intra kampus maupun ekstra kampus dan tenggelam dalam hedonisme, anak kandung kapitalisme. Yang lebih memalukan serta memilukan lagi, malah ada yang hanya sekedar mengejar target curriculum vitae-nya dengan jabatan tetek bengek. Padahal perjuangan untuk membela aspirasi mahasiswa nol besar.

Peran mahasiswa sebagai intelektual muda kini hanya tinggal cerita belaka. Pikiran mereka telah dirasuki oleh setan – setan K dengan iming – iming “cepat tamat”. Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli, apa guna banyak baca buku kalau mulut ngebungkam melulu (kutipan dari lagu Satu Bumi, Apa Guna-red).

Organisasi mahasiswa ITM dewasa ini telah mengalami fragmentasi dengan berbagai macam kepentingan. Tidak sadar bahwa organisasi mahasiswa itu akan dibajak oleh kader – kader gadungan yang memakai topeng kesatria yang juga berasal dari kalangan mahasiswa itu sendiri dan diotaki oleh pihak – pihak tertentu dengan berbagai macam kepentingan.

Harusnya mahasiswa lebih sadar dengan statusnya dan sekaligus peka terhadap keadaan yang terjadi disekelilingnya. Karena kita adalah segelintir orang yang beruntung, bisa mengenyam pendidikan tinggi disaat pendidikan menjadi barang mahal di negeri ini. Dengan intelektualitas yang tinggi yang kita miliki ditambah dengan sedikit idealisme, tidak ada salahnya untuk membaktikan sedikit tenaga, waktu dan pikiran kita untuk memperjuangkan hak – hak serta aspirasi mahasiswa di kampus kita tercinta Institut Teknologi Medan daripada harus menjadi pahlawan bertopeng. (*)